13.1.18
Dikota yang Ku Anggap Rumah
Disini akhirnya aku bersinggah kembali
Merebahkan hati yang tlah lama penat dimakan bising nya kehidupan
Satu,dua,dan hari berikutnya ku bersinggah
Seakan ada yang tertinggal
Rasa yang tak sama dengan yang dulu rupanya rumah
Bahkan manusia didalamnya, berbeda
Dan pikiranku mengarah kepada
Ini rumahmu yang dulu,kamu semakin tua,bantu dirimu mencari rumah baru,sudah tidak cocok lagi,rumah ini sudah tua untuk menampungimu
Lalu dikota yang kuanggap rumah aku berjumpa dengan yang kuanggap sahabat lama
"Semakin tua tuh semakin sadar ya kalo kita gak bisa bergantung sama orang lain"
Entah mengapa kalimat yang diucapkannya seakan teka teki yang ku bayangkan hingga saat ini
Dan teka teki itu mengarah kesatu manusia
Dia yang entah mengapa dan bagaimana membuatku menjadi susah untuk menerjemahkannya
Semakin jauh dari jangkauan pandangan,samar samar tapi masih terbayang
Tapi akalku melebihi kesamaran yang ada
Dikota yang ku anggap rumah
Aku memutuskan menghapus bayangan yang tersisa
Entah demi apa, hanya saja aku merasa sangat sakit merasakannya bila tidak
Jahat?
Bisa jadi,awamnya terlihat seperti itu
Tapi tunggu dulu
bukannya dia hilang dimasa kemarau
Seakan akan para pemuda berbondong bondong mencari air bersih hingga lupa ada si tua yang mencoba tertatih untuk berjalan,bahkan tak terlintas mengenai air
Bukannya dia si pintar bermain kata hingga layaknya kucing yang sedang diajak bermain bola bersama siempunya
Diangkat,meraih,diancang ancang,menyiapkan,disembunyikan,berlari-mencari
Lalu hampa dan ternyata ditangan empunya lalu ia tertawa
Bukannya dia yang tau caranya menghentikan asa lalu berusaha berempati akan asa yang telah mati
Dan dikota yang kuanggap rumah
Aku menyadari bukan semakin banyak mengejar yang menunjukkan kelebihan atas rasa
Kelebihan atas rasa yang harus jatuh selayaknya menjatuhkan hidup lainnya
Dan itu bukan kamu
Bukan masalah profesionalisme
Bahkan yang dianggap profesionalisme pun butuh rasa
Lalu bila rasa telah hancur,profesionalisme macam apa yang kan terbentuk?
Dan aku melihatmu bersama "profesionalisme"
Saat itu aku tau sebesar apa rasa
Terimakasih aku masih bisa percaya pada akalku
Walaupun rasaku terlanjur jatuh
03.02 a.m
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar