7.2.19

Kunci (Part 2: Karna Kau Adalah Aku)

Mencoba membuka gerbang setelah sekian lama mengunci rapat
Lalu mendengar kabar kemajuan hidup dimasa muda
Yang terlintas satu, bahagia mendengar ceritanya
Dan disisi lain bagaikan dentuman keras dalam diri
Sayang, kamu masih ditempat yang sama saat kamu mulai mengunci diri
Seperti ingin menyusul agar dapat berdampingan dengan mereka
Saling pamer akan dunia
Tertawa atas masa lalu perjuangan
Tapi apa daya semakin bercengkrama nyatanya membuat dunia semakin menakutkan

Ketakutan
Membawa kamu mencari mereka mereka yang berhati lembut
Mencoba menceritakan keluh kesahnya kehidupan
Responnya baik, menyemangati, masukan dan saran
Sayang kamu masih dalam segala keluhan dan mereka?
Telah maju beribu ribu langkah didepanmu
Setitik pun kau tidak bergerak

Egois
Ketika mereka mereka yang berhati lembut ingin melangkah panjang
Kau hanya berkutat dengan segala omong kosong kehidupan yang berantakan
Memaksa mereka untuk mengerti kau
Karna dengan menceritakan omong kosongmu, kau merasakan kelegaan diri
Tidak sedikit pun berfikir bahwa mereka sebenernya sedang berusaha melangkah jauh
Namun berhenti sejenak untuk bersamamu
Apakah sebenarnya kau pantas disamping manusia?
Atau apakah kau hanya menjadi benalu dalam hidup mereka para berhati lembut?

Sebaiknya kau kunci saja erat erat benteng pertahananmu itu
Jangan mencoba untuk membuka sedikit pun lagi, bahkan untuk menyapa
Bukan karna mereka buruk
Kaulah masalahnya
Kau jelas tau itu, hanya saja kau memang egois
Karna kau tau bahwa kau adalah aku

Kunci (Part 1: Prolog)

Diantara panasnya terik matahari
Aku terselimut masa lalu dan sedang memeluk erat takut
Tak berpindah dari tempat tidur sedikit pun sejak ayam tetangga berkokok
Nyamanku disini
Bukan bahagia, hanya saja nyaman

Diantara para lingkup anak perantauan
Aku mengunci diriku didalam gubuk 5x5
Dimana segala berkas, barang, bahkan sampah dapat sangat gamblang terlihat dimana mana
Bahkan hingga aku sendiri sepertinya lebih berantakan dari gubuk yang kudiami
Bukan
Bukan karna terlalu sibuk, hanya saja ada yang rumpang
Hingga raga saja susah untuk bergerak, kepalaku keras membeku, tersisa air yang menetes sedikit demi sedikit membasahi kelopak
Dan terkadang membludak tanpa sebab
Jelas
Aku hilang arah

4.5.18

Bukan bercerita menggunakan bahasa puitis
Lebih bercerita mengenai memahami percakapan singkat yang mendalam
Berawal dari pertemuan tidak disengaja

A: "kemana aja? Baru muncul"
B: "hehe iya kak"
A: " parah sih gak dateng kemaren"
B: " maaf ya kak"
A: "eh selow kalii, ngampus lagi nih?"
B: "ee mau ngurus mutasi sih, pindah jurusan"
.......

Well, in that moments gue cuma bisa nyemangatin and proud of her/him
Why? Cause almost some years harus ngerasain namanya not belong in here
Sempet milih untuk "kabur dari masalah" karna toh gak bakal ada yang really care of yourself than you do
Dan sampe sekarang gue ngerasain itu
But then he/she takes action
Buat gue cukup berani untuk mutasi jurusan.
Which means lo sedikit memberi masalah buat diri sendiri
Tapi intinya untuk menyelesaikan semua masalah
That also just makes me Shame on my self
Salju? Ampe semester tua masih maksa buat stay
Takut nambah masalah, akhirnya masalahnya gak kelar kelar


12.4.18

Kembali

Dunia itu berputar
Takkan selalu kau diatas dan tak selalu kau merangkak
Dan hari ini waktunya kembali
Ku anggap akan kembali menyinari
Nyatanya?
Bagai raga berpindah namun rasa telah hilang
Kata tak dapat terukir mendiskripsikan keanehan yang ada
Apa aku sebuah kesalahan menerima ragamu untuk bercengkrama dengan ku lagi?
Peduli mu seadanya yang penting ada
Sedih ku tak benar benar kau rasa
Diotakmu dan hatimu nyatanya hanya ada dirimu sendiri
Aku mungkin penghiburmu

Nyatanya aku tak butuh raga
Karna keadaanmu malah menghilangkan rasa
Aku ingin perasaanmu merasa yang kurasa
Nyatanya aku harus sadar aku tak pantas berharap